Avatar

Fiuh, akhirnya senin malam saya berdua niki bisa menonton film Avatar di Botani, setelah sebelumnya berlari ke Ekalokasari yang ternyata tiketnya sudah habis. Akhirnya kita menonton jam 21.45 selesai jam 00.15. Lewat tengah malam!

Tapi ternyata semua itu setimpal. Avatar film yang bagus. Durasi 150 menit, menyaingi Lord of the Rings. Avatar berkisah tentang Jake Sully seorang marinir yang kakinya lumpuh menjadi avatar di sebuah tempat bernama … Dia melakukan pendekatan kepada penduduk setempat, dan akhirnya menjadi bagian dari penduduk pribumi. Jake ditugaskan untuk membujuk warga setempat agar mau dipindahkan ke tempat lain karena daerah tersebut sangat kaya akan sumber mineral dan menjadi incaran manusia. Namun, ternyata rencana itu gagal. Jake jatuh cinta kepada putri kepala suku, dan menjadi berbalik menolak rencana manusia yang ingin merebut daerah tersebut. Jake berjuang bersama penduduk pribumi mempertahankan daerah tersebut. Dan akhirnya menang.

Yang menakjubkan dari film ini adalah gambar animasi yang tersaji sangat luar biasa! Hutan2 yang fantastis, dengan pepohonan yang rimbun, batang2 pohon, dedaunan yang bercahaya jika disentuh. Gambar yang terdapat dalam film ini seperti hutan2 yang berada di Amazon, Brasil atau Papua, Indonesia.

Musiknya juga bagus. Saya suka banget waktu bagian Sully berhasil terbang bersama ikran (burung tunggangan).. Kayaknya itu musik afrika ya?

Waktu nonton film ini, saya malah melihat Indonesia, khususnya daerah Papua, Irian Jaya, Kalimantan, Sulawesi yang kaya akan sumber alamnya. Emas, batu bara, minyak, bahkan tanah yang subur pun merupakan sumber alam yang tidak terkira nilainya. Dan saya melihat sebuah negara penguasa yang serakah untuk menjarah semua kekayaan tersebut.

Pada mulanya negara penguasa tersebut mendekati penduduk sekitar, dengan mengikuti kebiasaan, adat, dan menjadi bagian dari mereka. Setelah itu barulah mereka memperlihatkan niat awal mendekati penduduk. Mereka menjarah kekayaan penduduk setempat. Ketika penduduk tersadar bahwa mereka dijarah, mereka berbalik menyerang. Satu kalimat yang gue ingat dari Jake Sully kepada komandannya yang bernafsu mengusir penduduk, “ketika pribumi menduduki apa yang kalian mau, dan mereka mempertahankannya, kalian menganggap mereka sebagai pemberontak!”

Itu yang terjadi di banyak daerah yang kaya. Ketika penduduk ingin mempertahankan miliknya, supaya tidak rusak dan hancur oleh orang2 yang serakah, mereka dianggap sebagai pemberontak.

Contoh nyata yang sekarang terjadi adalah Papua. Hutan yang sepertinya menjadi andalah terakhir, setelah hutan di Kalimantan dan Sumatera habis tergerus untuk pembangunan hutan industri, perkebunan kelapa sawit, pertambangan batu bara, penggalian emas. Papua direncanakan menjadi perkebunan kelapa sawit!

Film ini juga –kayaknya lagi trend bikin film lingkungan– menyadarkan kita untuk menjaga kelestarian hutan beserta isinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s