Obituari

Image

Menurut kamus bahasa Indonesia yang saya pinjam dari seorang teman yang penulis dan editor, obituarium adalah berita kematian seseorang yang dimuat di surat kabar dsb., biasanya disertai riwayat hidup singkat.

Ketika seorang tokoh meninggal, banyak Koran akan menuliskan beritanya, disertai penyebab kematian, kapan meninggal, keluarga yang ditinggalkan disebutkan juga, istri/suami, jumlah anak dan cucu/cicit, pengalaman kerja dan penghargaan yang pernah diraih. Berita seperti ini biasanya seperti sebuah pemberitahuan atau pengumuman pada khalayak umum.

Jaman dulu ketika di rumah masih berlangganan koran Kompas, saat membaca berita kematian seorang tokoh nasional, biasanya saya menunggu sebuah artikel bertajuk obituari di harian Kompas yang akan muncul 1-2 hari setelah seorang tokoh meninggal. Penulisnya adalah Rosihan Anwar. Saya senang membacanya karena ada sentuhan pribadi dari sang penulis yang mengenal baik sang tokoh yang meninggal.  Rosihan akan menceritakan perkenalan mereka, pertemanan yang dijalin, kelucuan yang pernah dialami, kebaikan dan bahkan kenakalan sang tokoh, serta jasa atau penghargaan yang pernah diraih. Lewat artikel ini, saya merasa lebih mengenal tokoh yang meninggal, dari sisi seorang teman.

Ketika Rosihan Anwar wafat, saya sedih sekali, salah satunya karena tidak bisa menikmati lagi tulisannya dan menduga siapa yang akan menulis obituarinya seindah tulisan Rosihan tentang seorang tokoh yang meningal. Bahkan saya tidak tahu, apakah ada penulis yang menuliskan obituari Rosihan Anwar sebaik dia. Saya pernah beberapa kali bertemu dengan Pak Rosihan dan istrinya. Dia sudah sangat sepuh, jalannya agak membungkuk, tapi tetap bersemangat untuk mendatangi banyak undangan. Istrinya pun cantik. Mereka pasangan serasi dan abadi. Iri kan..? J

Setelah sekian lama tidak membaca obituari seperti tulisan Rosihan Anwar, hari ini saya membaca Koran Kompas minggu, ada artikel Arswendo Atmowiloto yang menulis tentang Veven Sp. Wardhana seorang wartawan dan sastrawan yang telah pergi pada Jumat dinihari 17 Mei. Arswendo  menuliskan sebuah obituary untuk mengenang sahabatnya sekaligus pengingat kepada pembacanya. Mereka telah berteman sejak menjadi wartawan di tabloid Monitor, sehingga Arswendo bisa menggambarkan profil Veven dengan jelas:  tampilannya yang selalu rapi, kemeja dimasukkan dan tak sehelai rambut pun jatuh di dahi.  Veven ibarat anak manis yang baik-baik saja di tempat kerja. Nyaris tak menimbulkan persoalan, kecuali sekali, waktu meminta saya menjadi wali ketika melamar istrinya… saya tersenyum membaca bagian akhir ini. Terlihat sekali keakraban antara Arswendo dan Veven.

Dan pada bagian akhir artikelnya, Arswendo menulis, Ven, kamu berangkat lebih dulu. Salam, ya…

Saya termenung. Saya ikut merasakan kesedihan seorang Arswendo dtinggal seorang sahabatnya.

Tiba-tiba saya menyadari satu hal, Arswendo sangat tabah menuliskan obituary ini. Begitu juga Rosihan Anwar. Penulis obituary harus membuka kenangan bersama orang yang telah pergi untuk selamanya dan itu harus dituliskan. Butuh kekuatan supaya nggak nangis sesegukan selama menulis. Saya sih nggak kuat.

Waktu menulis tentang kepergian ayah saya dan seorang sahabat, Saya harus sering mengusap pipi yang basah oleh air mata. Setelah menulis dua kalimat, saya harus berhenti sebentar. Banyak tisu yang terbuang selama menulis. Banyak kenangan berseliweran di kepala yang itu semua tidak mungkin terulang. Kenangan terakhir dan penyesalan, kenapa saya tidak melakukan ini dan itu. Rasa kehilangan itu masih terasa. Bahkan waktu itu saya menulis beberapa bulan setelah kepergian ayah, dan sahabat. Bayangkan, Arswendo dan Rosihan harus menulis hanya berselang satu dua hari setelah kepergian sahabatnya. Saya takjub dengan ketabahan dan kekuatan hati mereka.

Dalam obituary ini, saya jarang temukan penulis menggunakan kata mati atau meninggal. Saya pun tidak ingin menggunakan kata itu. Saya merasa mereka telah pergi dan tidak akan kembali. Karena saya tidak ingin kenangan saya bersama mereka mati. Kenangan itu saya tuangkan dalam sebuah catatan, sebagai pengingat akan orang-orang yang kita cintai, selalu.

Itulah obituari, kenangan tertulis terhadap orang yang kita cintai.

Selalu ada rindu buat orang-orang yang telah pergi…

Pejompongan, Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s