Terbang sendiri

Akhir November saya mendapat berita dari Anne, adik saya yang tinggal di Jambi, bahwa anak-anak akan berlibur ke Bogor, Syamil dan Igan. Tentu saja saya bersorak gembira. Karena sudah lebih dari 3 tahun saya nggak ketemu mereka. Sudah segede apa sekarang? Apa masih lucu atau semakin nakal.

Mendekati hari kedatangan ponakan,  saya mendapat kabar kalau dua ponakan pergi tidak didampingi bapaknya. Apa?? Emang dua bocah itu pada berani dan orangtuanya tega? Syamil kelas 5 SD dan Igan kelas 2 SD. Mereka kan masih pada bayi. Sebesar apa pun seorang anak, orang tua akan menganggap mereka masih bayi hehehe. Tapi Anne bilang, justru yang lebih berani itu anak2, sedangkan orangtuanya khawatir. Tapi karena Syamil bilang dia mau dan berani, akhirnya orangtuanya memberikan ijin dan mencari maskapai penerbangan yang bisa titip anak. Adik saya pesan Lion Air. 

Di rumah, kita berembukan siapa yang akan jemput dua bocah. Akhirnya saya yang jemput. sekalian jalan2 ke bandara, udah lama ga naek pesawat. Anne wanti-wanti  supaya saya tiba lebih dulu sebelum pesawatnya mendarat supaya anak-anak ga nunggu dan kebingunan nyari saya. Syamil  udah dibekali handphone oleh ibunya supaya lebih mudah dihubungi dan dipantau. Syamil pasti senang, udah liburan ke Bogor, dikasih hp pula. Tapi Syamil pun diberitahu bahwa HP harus dimatikan di dalam pesawat. Dan sejuta nasihat lainnya.

Tibalah hari kedatangan. Saya naik bis menuju bandara. Di perjalanan, ada sms dari adik ipar yang mengabarkan pesawat ke Jakarta belum tersedia di bandara Jambi. Nah loh! ini yang dikhawatirkan. Pesawat delay dan anak-anak harus menunggu, saya pun mesti nongkrong di bandara. Haduh, tahu kan harga secangkir kopi di bandara itu mehel sekali!  Setengah jam kemudian, sms masuk lagi. Anak-anak sudah boarding. Horeeee.. Ga jadi beli kopi mehel.. Hehehe..

Sampai di bandara, saya langsung menuju bagian kedatangan pesawat dari Sumatera. Mencek jadwal kedatangan di layar yang terpampang besar. Jambi belum ada info jam berapa akan mendarat. Saya jalan2 dulu sekitaran bandara mencari tempat duduk. baca buku. Cek hp. OMG. Ada 3 miss call. Dari kakak, adik dan mama. Ya ampuunnn. ini semua memantau kedatangan ponakan di bandara. Semuanya siaga.

Setelah sejam menunggu, ada informasi pesawat dari JAmbi telah mendarat di Soetta. Saya buru-buru telpon Syamil, ga diangkat. Saya kirim sms mengabarkan saya sudah berada di luar bagian kedatangan. Saya juga buru-buru mengabarkan kepada para pemirsa di Bogor dan Jambi bahwa pesawat telah mendarat, tapi belum dapat kabar dari Syamil. Saya pelototin orang-orang yang bermunculan di bagian pengambilan barang.  Hp bunyi. Dari Syamil! Isi pesannya: Udah sampai. Saya kirim kabar lagi sama pemirsa di Bogor dan Jambi. Syamil sudah mendarat di Jakarta. Saya merapat ke pagar pembatas penjemput mencari dua bocah itu. Saya memandang ke dalam ruangan pengambilan bagasi yang terhalang oleh kaca besar.

Itu Igan & Syamil! Berjalan bersama seorang lelaki berkemeja putih sambil mendorong troly dan memegang secarik kertas. Rupanya mereka akan mengambil dus dan sebuah tas, kata Anne lewat sms, dus itu berisi pempek. Cihuyy!

“Igan!” saya berteriak memanggil Igan yang  menempelkan mukanya di kaca sambil mengamati orang-orang yang berada di luar. Saya berada di pinggir pagar dan melambaikan tangan. Igan melihat saya dan tersenyum lebar.

Dia berlari ke dalam, kemudian terlihat dia kembali berjalan bersama Syamil dan lelaki berkemeja putih. Saya berlari menyambut mereka.

“Ibu penjemput dua anak ini?” tanya lelaki  yang ternyata petugas Lion Air. Saya mengangguk. Kemudian dia menyerahkan secarik kertas tiket dan troly kepada saya. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya sudah mengurus dan mengantar dua ponakan saya.

Dua bocah itu hanya senyam senyum lihat saya. Mereka sudah besar. Syamil sudah hampir setinggi saya. Saya melihat Igan dan Syamil dikalungi kartu bertuliskan UM. Saya cek isinya. Artinya Unaccompanied Minority, berisi informasi nama anak. Sebagai penanda bahwa mereka butuh pendamping dan pengawasan.

Kami menuju naik bis menuju Bogor. Di bis, Igan membuka tas ranselnya dan mengeluarkan minuman. Makanan. Permen. Banyak bener bekelnya. Pasti biar ga rewel di pesawat.

“Uwak, tadi pilot pesawatnya bule loh,” kata Syamil.

“Loh koq tahu?” tanya saya.

“Iya. Soalnya tadi kita turun terakhir. Terus kita lihat pilotnya ke luar,” balas Syamil.

Jadi, penumpang UM turunnya terakhir, supaya lebih mudah diawasi.

Syamil berlibur selama kurang lebih dua minggu di Bogor. MEnuju hari kepulangan, kasak-kusuk seperti awal kedatangan kembali terjadi. Siapa yang bisa antar mereka pulang ke Jambi. Tapi ternyata harga tiket arus balik liburan melonjak tinggi. Demi penghematan, akhirnya diputuskan, dua bocah itu kembali pulang berdua saja. Huaaaa… Ga tega!

Lagi-lagi, saya kebagian tugas menemani mereka ke bandara, dan mendaftarkan sebagai penumpang UM. Di bagian check in, saya harus mengisi sebuah formulir yang berisi data pengantar di Jakarta, dengan memasukkan nama, alamat, nomor telpon. Juga data penjemput di JAmbi. Saya masukkan data Bapaknya, nama dan nomor telpon.

Kemudian, seorang petugas mengambil dua buah kartu, dan menuliskan nama dua bocah di kartu tsb. Sebuah kartu UM. Dikalungkan di masing-masing anak.

Waktu keberangkatan telah tiba. Syamil dan Igan berjalan bersama seorang petugas. Melambaikan tangan kepada saya, mukanya sendu. Saya… hiks.. Saya tidak kuasa menahan sedih, mereka masih kecil, dipercayakan kepada orang lain, naik pesawat, tanpa orang dewasa yang menemani. Saya lihat ke sekeliling, dua orang anak menggunakan kalung yang sama seperti Syamil. Loohhh ternyata banyak anak-anak yang pergi berlibur tanpa orang tua. dan mereka terlihat biasa saja, tenang dan kalem. Ah, orangtua memang selalu khawatir akan anak-anaknya.

jadi, wahai orangtua, kalau anak-anaknya pengen pergi berlibur ke luar kota naik pesawat tapi ga bisa mendampingi, ini tipsnya, supaya perjalanan nyaman dan terpantau:

1. Tanya anaknya dulu, mau nggak dia pergi sendiri tanpa ayah ibu. Kalau anaknya mau dan bersemangat, nah, giliran orangtua mengumpulkan semangat dan keberaniannya. Itu perlu loh. Rasa tega dan berani dari orangtua, akan membuat anak semakin berani. Adik saya sebenarnya takut dan khawatir banget waktu melepas anaknya pergi terbang. Doa tak putus dipanjatkan demi keselamatan anak-anaknya.Dia lega dan menangis bahagia ketika mendapat kabar saya sudah bertemu dengan anak-anak di bandara.

2. Bekali anak-anak dengan hp supaya bisa dipantau dan dihubungi

3. Bekali anak-anak makanan. Saya lihat tas Igan gede. Ternyata di dalamnya penuh dengan makanan dan minuman. jadinya dia anteng selama perjalanan.

4. Bawa mainan, buku cerita, boneka, supaya anak-anak  juga anteng.

5. Buat penjemput, usahakan datang lebih awal dari waktu kedatangan anak-anak. Supaya anak-anak tidak menunggu lama di bandara.

6. Tas berat lebih baik masuk bagasi. Bawa tas ringan yang berisi makanan, boneka dan mainan.

7. Serahkan keselamatan dan perlindungan anak-anak pada Maha Pelindung dan Maha Penyelamat.

Setelah mereka kembali ke Jambi, saya dapat kabar. Syamil pengen main lagi ke Bogor, bawa adiknya yang lebih kecil, Dhiya, yang umurnya 3 tahun.  Ohhhh tidaaakkkkkkk…! Mesti siaga tingkat tinggi itu! 😀

1456545_10202233812699821_881468538_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s