Aku terbang lagi!

fly2

Pagi ini aku bangun dengan perasaan riang, membuat kakiku ringan melangkah jalan pagi. Kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan. Udara sejuk. Langit semburat merah matahari yang siap-siap menerangi bumi. Aku senang sekali di sini tidak ada bangunan tinggi yang menghalangi untuk memandang langit luas. dan di tanah lapang ini, aku merasa seperti berada di mangkok setengah bundar yang dibalikkan.

Ternyata bukan hanya aku yang menikmati pagi. Tampak seorang ibu sedang berjalan kaki sambil mendorong kereta bayi. Pasangan kakek nenek sedang duduk di sebuah bangku di tepi taman, sang kakek menceritakan sesuatu dan nenek tersenyum mendengarnya. Ah, aku iri melihat kemesraan mereka berdua. 

Aku terus berjalan menyusuri jalanan berbatu ini.  Di kanan kiri tanaman kecil menjadi pembatas jalanan dengan taman. Tiba-tiba, di depanku ada jalan menurun yang panjang dan curam. Aku membayangkan, kalau aku berlari dari titik ini dengan kecepatan tinggi, aku bisa terbang melewati jalanan menurun ini. Aku teringat ketika mengunjungi Gunung krakatau dan hendak turun gunung, aku berlari menuruni tebing Gunung Krakatau yang berpasir hitam. Waktu itu berlari kencang, tidak bisa berhenti, merasa akan terbang. Tapi wakti itu tidak bisa terbang karena banyak orang. Sekarang aku ingin mencobanya. Aku sudah lama tidak melayang di udara.

Aku melihat sekeliling, hanya sedikit orang di sini, dan mereka semua sedang sibuk. Tidak ada yang memperhatikan. Aku bersiap-siap mengambil ancang-ancang berlari. Saya menatap jalanan di depan yang curam menurun dan panjang. Saya menarik napas dan mengeluarkannya dengan kencang. Satu… Dua… Tiga..!

Aku berlari. Jalanan menurun. Semakin kencang. Tarikan ke bawah semakin kuat. Jalanan menurun ini masih jauh. Badan semakin terdorong ke bawah. Aku tidak bisa menahan laju kakiku. Sekarang saatnya. Aku pejamkan mata. Lompat…..!

Aku membentangkan dua tangan ke samping kanan kiri. Menegakkan badan. Menendang kaki ke belakang dan merapatkannya.

Hening. Hanya terdengar desiran angin di telinga. Wajah dan tangan dibelai angin. Rambut melambai tertiup angin. Aku membuka mata. Melihat jalanan menjauh di bawah. Aku melayang….!! Yahuuuu…!  Aku terbang..! “AKU TERBANG!’

Aku mendorong badanku ke atas supaya terbang lebih tinggi. senang sekali bisa terbang lagi. Tiba-tiba aku ingin terbang mundur. Hal yang belum pernah aku lakukan. Bahkan burung pun tidak pernah melakukannya 🙂

Maka, aku membalikkan badan supaya bisa telentang menghadap langit. Ketika itu, aku baru sadar, aku tidak sendirian. Aku melihat ke bawah, ibu itu berdiri sambil memegang kereta bayinya. Kakek nenek itu masih duduk di bangku di tepi taman. Mereka semua melihat ke atas menatapku. Kakek itu mengacungkan tangannya. Saya tersenyum lebar, melambaikan tangan, dan berteriak, “Sampai jumpa!”

Badan terlentang menatap langit biru di atas. Awan putih bergumpal-gumpal berarak. Ah indahnya. Asyik juga terbang dengan gaya ini. Tapi pagi ini mulai terik. Aku balikkan badan dan mulai menatap ke depan. Tidak jauh, ada sebuah bukit dengan rumah-rumah di atasnya. Oh tidak. Atap rumah-rumah itu tinggi sekali. Saya harus menaikkan ketinggian atau menabrak atap.

Aku sedikit takut kalau harus menambah ketinggian. Rasanya tidak nyaman. Seperti sebagian isi perutmu naik ke dada kemudian balik lagi ke dalam perut. Rasanya sama seperti saat kita naik pesawat dan terbang menuju langit.

Aku harus naik sekarang. Rumah-rumah itu semakin dekat. Hup! Nafas saya tercekat. Dada sesak. Badan sedikit limbung. Whooaaa..! Harus menyeimbangkan badan merentangkan tangan ke kanan kiri supaya gerakan tidak megal megol. Setelah posisi stabil, atap rumah di bawah hanya berjarak satu meter dengan badan saya. Atap rumah berwarna coklat dan ada beberapa yang punya menara di sudutnya. Atapnya lancip. Fiuh!

Setalah bukit yang tinggi, tampak di depan hamparan lapangan rumput. Tiba-tiba badanku terdorong ke bawah, terbang rendah. Di tepi lapangan ada sebuah hutan. Pohonnya tinggi-tinggi. Aku harus menaikkan ketinggian atau menabrak pohon-pohon itu. Aku mendorong badan ke atas, tapi tidak bisa. Pohon itu semakin dekat! Ayo terbang tinggi! Tidak bisa!

Aarrgggghhh..! Aku menutup muka dengan dua tangan menghalau dahan pohon. Rasanya seperti disambit. Sakit. Di salah satu pohon itu ada sarang laba-laba yang besar. Aku tidak bisa menahan laju terbang. Aku menabraknya!

Sarang laba-laba menjerat dua tanganku. Terasa lengket melilit jari-jari dan lengan. Mencoba melepaskan jaring-jaring itu, aku merasakan ada sesuatu bergerak di kepala, turun ke muka. Laba-laba! Aku panik! Aku mencoba untuk menghalau laba-laba itu. Tapi tanganku lengket dan dililit jaring laba-laba.

Laba-laba itu turun ke leher. Tapi aku merasakan lagi di muka ada yang merayap. Dua laba-laba! Semakin panik. Tangan semakin sibuk menghalau. Terbang semakin tak tentu arah. Menabrak ranting.

Addduuuhh! Kakiku! Aku merasakan sengatan di kaki. Sakit. Rasanya seperti ditusuk jarum. Laba-laba yang pertama menyengat betis kaki. Aku melihat ke bawah memeriksa kaki dan jarak dengan tanah semakin dekat. Aku akan jatuh. Aku akan mendarat di tanah yang penuh dengan dedaunan. Arrrgghhhhh..! Laba-laba di muka hinggap di atas kelopak mataku badannya condong ke bawah dan aku menatap matanya. Aku memejamkan mata. Takut. Tubuhku menghantam bumi. Gelap pun semakin pekat.

–rasamala. misteri pagi. 28 Maret 2014–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s