Terpesona orang utan

100_1838

Tadi malam nonton “100 hari keliling Indonesia” di Kompastv edisi jalan2 ke pulau Komodo. Saya sama Niknok heboh lihat pemandangan yang indah, laut yang bening dan komodo yang jalannya gowal gewol ternyata bisa berlari dengan kecepatan 20 km/jam! Cukup cepat. Komodo juga nggak punya telinga tapi punya penciuman tajam.

Saya melihat si pembawa acara begitu bersemangat bertemu dengan komodo di habitat aslinya! Kebayang deg-degan, panik, malu-malu tapi mau ngedeketin hewan yang jarang dilihat. Hewan di alam aslinya kan nggak sejinak di kebun binatang, dan sensasinya tentu berbeda. Di kebun binatang, binatang tersebut berada di kebun. hehehe apa sih! Kebun itu buatan, tidak alami, hanya sepetak saja. terus binatangnya juga udah pada lemes gitu, leyeh-leyeh, kurus. Dan kita tidak harus jalan berkeliling untuk bertemu atau menunggu binatang tersebut muncul. Cukup jalan sedikit ada singa, nengok kiri ada rusa. Kalau nggak dikandangin mungkin rusa itu sudah raib. 

Beda sekali sensasinya kalau kita melihat binatang-binatang itu di habitat aslinya. Rasanya beda banget lihat rusa di Kebon Raya Bogor sama rusa di Ujung Kulon.

Nggak usah jauh-jauh ke taman nasional deh. Coba aja maen ke Curug Nangka di Bogor. Di sana masih terdapat monyet-monyet liar yang bergelantungan dan mendekati pengunjung. Waktu itu, monyetnya lagi pada tawuran. Monyet berbulu abu-abu. Menyeringai lebar dan bulunya berdiri, suaranya kecil menjerit. Saya tentu saja takut. Nggak berani lewat. Nunggu orang lain menghalau monyet-monyet itu. Cukup digebah, husshhh..! monyet itu menyingkir.

Tapiiii.. kalau orang utan menghalangi satu-satunya jalan pulang, siapa berani menggebahnya. Bahkan seorang jagawana menyuruh saya dan teman-teman untuk bersabar.

Beberapa tahun lalu, saya berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting. Pertama lihat orang utan, saya hanya berdiri terpana. Ini pertama kalinya saya lihat orang utan secara langsung. Badannya besar dengan bulu-bulu di sekujur tubuhnya berwarna coklat kemerahan. Tangannya cukup besar dengan kuku-kuku berwarna coklat tua. Tidak ada pembatas antara kami. Saya diam. Nggak berani jalan. Sementara si orang utannya, jalan santai memegang sesisir pisang. Dia melihat ke arah saya sambil memakan pisang. Iihhhhh.. Bikin ngiler aja. Bagi doongg!

Kemudian saya diajak  penjaga hutan, ke tempat memberi makan orang utan. Jagawana teriak-teriak menirukan suara orang utan memanggil-manggil waktu makan sudah tiba. UUuuuu… Uuuuu.. Kencang juga teriakannya di hutan yang rimbun dan pepohonan yang tinggi. Tiba-tiba, beberapa dahan pohon bergerak-gerak. Orangutan berdatangan dari berbagai penjuru. Berayun-ayun di atas pohon mendarat di sebuah panggung kayu yang sudah disiapkan seember susu dan pisang. Ada induk orangutan menggendong anaknya. Anaknya berlari-lari di atas panggung. Cuek aja sama orang-orang yang menonton tingkahnya. Saya saat itu merasa terharu, merinding, terpesona dan pengen pegang-pegang anak orang utan yang lucu. Tentu saja tidak boleh.

setelah selesai, saatnya kami kembali ke dermaga, harus meniti jalanan kayu karena kanan kiri adalah rawa. Sedang asyik berjalan, tiba-tiba rombongan di depan saya berhenti. Kami disuruh tenang. Ternyata di kejauhan ada sepasang orang utan yang sedang leha-leha bersantai gogoleran di tengah jalan. Kami nggak bisa lewat. Nggak ada jalan lain. Mau turun, ada rawa, becek. Usir orangutan? Siapa berani! Badan gede tapi mereka gesit. Akhirnya orangutan itu sadar ada mahluk lain yang mengamati tingkah mereka, langsung bergegas bangun. Berjalan. Menghampiri kami! Hiyyaaaaa.. Badannya lebih besar dari orang utan yang saya lihat sebelumnya. Panik dimulai! Semua langsung minggir. Ngasih jalan sama orang utan itu. Seorang teman saya malah girang, dia teriak, “Itu kan Kosasih! Itu Kosasih!” Aduuuhh siapa pula itu. Ternyata, orangutan besar itu bernama Kosasih, seorang legenda raja penguasa hutan. Tapi menurut jagawana, raja hutan itu sudah turun tahta, berganti dengan orangutan lain yang lebih perkasa dan merebut kekasihnya. .. koq mirip sinetron ya kisahnya!

Masih di Tanjung Puting, ketika menyusuri hutan, jalanan berbelok, tiba-tiba, di depan ada babi guede! Kan suka ada yang bilang segede bagong, nah saat itulah gue mengerti maksudnya, bagong memang gede! Tingginya sekitar setengah meter, hitam. Babi hutan itu sedang merumput. Saya berjalan pelan-pelan di depannya. Babi hutan itu tetap menunduk. Fiuh!

Masih soal babi, Di Taman Nasional Ujung Kulon ketika perahu bersandar di Handeulum, untuk mendaftar dan melapor ke sekretariat TN UK, saya menyempatkan diri ke toilet. Dan di halaman kantor itu, ada beberapa babi hutan sedang merumput. Saya jalan pelan-pelan, waspada, tidak melepaskan pandangan dari gerombolan babi hutan. Ada 4 ekor man! Mereka sih santai saja. Nggak terganggu dengan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Saya tentu saja kaget. Ternyata mereka sudah terbiasa dengan kehadiran orang2 yang berkunjung ke pulau ini. Babi hutan ini lebih kecil dibandingkan babi hutan yang saya jumpai di Kalimantan.

Sayangnya, di TN Ujung Kulon saya tidak bertemu dengan merak. Di padang rumput Cidaon saya hanya melihat gerombolan banteng yang sedang merumput. Rusa hutan.

Tahu lagu ini kan: si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun, ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun.

Saya mengira kancil itu hanyalah sebuah mitos dalam lagu. Kalau pun ada, saya mengira itu sama dengan rusa. Ternyata, kancil itu ada! Beda dengan rusa. Saat saya berkunjung ke Danau Beratan, Bedugul, Bali, saya mengitari taman di sana, dan melihat sebuah kandang besar. Ternyata isinya adalah seekor kancil. Tampilannya seperti rusa, tapi lebih kecil. Saya terpesona melihatnya, karena itulah pertama kalinya melihat dan percaya, kancil itu ada.

Walaupun hanya melihat sekilas seekor penyu yang sedang berenang di kepulauan Seribu, saya bisa teriak histeris dan bersorak gembira. Apalagi kalau berenang bareng di Derawan ya.

Untuk melihat langsung binatang di habitat aslinya kita butuh perjuangan dan waktu yang tepat. Karena bisa jadi binatang tersebut menjelajah di daerah lain, pergi piknik. Kita harus berjalan menyusuri hutan. Mencari di mana biasanya mereka berkumpul.

Beberapa bulan setelah kembali dari TN Tanjung Puting, seorang teman bercerita, ada temannya harus menginap sebulan di sana untuk mendokumentasikan bekantan. Karena berhari2 menginap di sana, mereka tidak bertemu bekantan. Saya terkejut mendengarnya, karena waktu berkunjung ke sana, disambut oleh bekantan yang berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Bahkan kami bisa duduk santai di perahu memandang mereka. Malam harinya, pohon-pohon di sekitar kami bergerak-gerak dan riuh dengan suara bekantan. Rupanya di situlah mereka tidur. Malam itu saya tidur di perahu ditemani bekantan. Tapi si pemilik perahu mengingatkan semua penumpang untuk hati2, karena di sungai itu ada buayanya! Huaaaaaaa…!

100_1855

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s