Jangan membelakangi laut

IMG_5548

Sebentar lagi libur lebaran. Banyak orang akan mudik ke kampung halaman sendiri atau kampung halaman orang lain. Ada loh beberapa teman yang nggak pernah ngerasain mudik jadi akhirnya mudik ke kampung halaman orang lain :))

Kalau nggak mudik, ya pergi berlibur ke pantai, ke gunung ke manapun yang penting piknik. Kampung halaman saya di Pameungpeuk, Garut dekat dengan pantai selatan Santolo, Rawa Buaya dan lain2. Nggak hapal euy nama pantainya. Pokoknya yg paling saya senangi saat mudik, setelah mengitari gunung Gelap dengan 66 belokan tajam yang bisa bikin mabok darat, adalah ketika di sebuah bukit saya bisa memandang laut! Itu pertanda kampung saya sudah dekat. Apalagi setelah mobil berjalan di pinggir pantai. Beuhhh! Aroma laut. Udara lengket. Debur ombak yang kenceng! Yes! Pantai laut selatan yang berada di pulau Jawa ombaknya sangat kencang! Bahkan dari kejauhan pun kita bisa mendengar ombaknya. Makanya, seorang sepupu merasa aneh ketika diajak ke pulau Seribu, dia tidak mendengar dentuman ombak. Padahal penginapanna tepat di pinggir pantai. Lain laut lain ombaknya. betul?

Pada hari kedua mudik, biasanya saya menyempatkan main ke pantai. sebelum pergi, para tante, bibi, sepupu mengingatkan kami, anak-anak kota yang jarang maen ke pantai, untuk berhati2 di pantai. Nggak boleh berenang. Nggak boleh ke tengah pantai. Main aman di pinggir saja, maen air kecipak kecipuk basah-basah garing gitu. Kita nurut aja, karena sudah banyak kejadian di pantai Garut banyak korban terseret ombak. Kebanyakan korban adalah pendatang, orang luar yang sedang berlibur, bukan penduduk lokal. Entahlah, apakah mereka tidak mengindahkan aturan, atau senang menantang ombak besar, atau saking asyiknya bermain.

Jika mendengar berita korban terseret arus di pantai, saya prihatin, karena kebanyakan korban adalah pendatang yang tidak mengerti mengenai keadaan pantainya. Sebaiknya kita menaati peraturan, atau bahkan larangan yang disampaikan oleh warga setempat, karena mereka lebih tahu. Walau terkadang terdengar aneh, ya nurut ajalah daripada cilaka.

Ini terjadi waktu saya kemping di pulau Handeuleum. Ketika akan pasang tenda, seorang bapak mengingatkan jangan pasang tenda terlalu dekat pinggir pantai. Ada buaya. Kita anak kota pada kaget dong. Memang ada buaya di laut? Akhirnya kita nurut aja sama bapak itu. Ehh ternyata subuh menjelang pagi, angin badai disertai hujan. Entahlah apa yang akan terjadi kalau kita pasang tenda pinggir pantai. Mungkin sudah terbang terbawa angin.

Waktu saya berlibur ke Bayah, rumah kakak sepupu, terletak di pinggir laut. Ombaknya besar. Dia tidak pernah mengijinkan anak2nya bermain di sana. Dia selalu mengarahkan untuk bermain di Pantai Cimanuk atau Sawarna yang dirasa lebih aman buat bermain. Itu pun saya masih diwanti-wanti dinasehati, “Kalau ke pantai, jangan membelakangi ombak dan laut ya.”

Hmmmmm.. kalau di foto kan bagusnya laut dan ombak besar ada di belakang kita ya. Kalau nggak boleh membelakangi laut, bagaimana orang lain tahu kalau kita lagi piknik di pantai. Ternyata, isi pesannya adalah, kalau kita main di tengah laut dan membelakanginya, kita tidak akan tahu kalau ada ombak besar datang. Tuh, gitu katanya.

Selamat berlibur ya. Tetap waspada.

IMG_5540
Pantai Pangandaran
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s