Bebe ohh Bibi..

BB. Ada yang membacanya bebe. Singkatan dari Blackbery. Seorang teman protes, seharusnya disebutnya Bibi, kan singkatan dari bahasa Inggris, seharusnya dibaca Bibi bukan bebe. Ya apa pun penyebutannya, saya akan menyingkatnya menjadi BB kependekan dari Blackbery, smartphone yang merubah gaya hidup banyak orang dan dunia pergaulan. Sebenarnya udah lama pengen nulis ini waktu masih baru muncul, tapiiii.. hehehe malesss! Tapi ada sebuah momen yg bikin gue harus cerita tentang BB dan apa dampaknya pada gue yang bukan pengguna BB. 

Minggu lalu,  saya meminta nomor telpon kepada seorang teman. Dia pun memberikan nomornya, dan balas bertanya, “boleh minta nomor PIN BB nya?” Hiyaaaa..! Ini pertanyaan yang sudah lama tidak saya dengar.

Waktu BB masih menjadi bunga pergaulan, banyak orang yang meminta nomor PIN BB pada saya, teman lama dan kenalan baru. Dengan malu dan berat hati, saya menjawab, saya nggak punya BB. Malu dong, kesannya ga gaul, ga ikut perkembangan pergaulan. Tapi walaupun malu, saya tidak memaksakan diri untuk membeli BB, karena tidak tertarik dan banyak orang yang pakai, pasaran kesannya.. hahahaha jangan jitak saya. Hape saya waktu itu masih bagus, bisa telpon, sms, online, sudah cukup buat saya.

Kelebihan BB adalah bisa membuat grup teman dalam satu percakapan. Ada grup sekolah, grup hobi, dll. Akibatnya, kalau bertemu teman2 sekolah atau teman komunitas, saya kayak anak kuper alias kurang pergaulan. Mereka membicarakan apa yang sedang jadi berita di grup BB nya. Saya bengong mendengarnya. Nggak ngerti mereka lagi ngomongin apa, saya tersisih dari pergaulan. Perih. (drama). Tapi untunglah saya punya teman2 yang suka bercerita, atau kasihan kali ya lihat saya bengong waktu mereka ramai ngobrol hehehe. Jadilah saya tahu apa yang sedang ramai di grup. Kalau ada rencana jalan2, banyak orang yang memberi tahu dan mengajak saya.

Ternyata, pembicaraan di grup itu ramai, dan kadang bertengkar sesama anggota grup. yang mengakibatkan ke luar dari grupnya. Ada yang ke luar dari grup karena disuruh suaminya. Soalnya di grup itu ada mantan pacarnya. Ihiiyyyyy. Ada juga yang ke luar dari grup, karena grup itu terlalu berisik, setiap saat ada aja yg kirim pesan. Trang tring setiap saat. Satu yang bikin saya heran dan kepengen tahu, adalah grup kantor. Apa yg mereka bicarakan dalam grup itu. Sudah seharian bertemu di kantor bicarakan pekerjaan, koq masih ngobrol kerjaan di grup. Walhasil jam kantor bisa jadi 24 jam! Ngegosip di grup? Dibaca sama boss juga kan?

Punya BB mesti punya dana khusus untuk berlangganan menggunakan BBM alias blackberry message. Bisa kirim pesan sepuasnya. Mau bbm an ribuan pesan, nggak akan kena biaya apa pun. Akibatnya, karena sudah bayar mahal buat BBM, jadi pelit kirim sms, karena kena biaya lagi. Saya pernah diminta seorang teman untuk beli BB supaya bisa bbm an ga usah sms, karena pulsanya habis buat sms! Heh?! Gue mesti keluarin jutaan perak supaya dia bisa irit 200 perak ? OGAH! Eh iya, mungkin itu salah satu sebab saya nggak mau punya BB. Biaya bulanannya yang buat gue cukup besar dan boros. Mendingan duitnya buat beli buku, nonton, jalan2, beli dvd, jajan…. Hmmmm tetep boros sih ya!

BB juga berdampak pada gaya pergaulan. Kalau dulu bertemu teman kita bisa ngobrol ramai, sekarang, pada sibuk ma BB nya. Huwaaaa.. Saya pernah ngambek karena dicuekin ma teman yg malah asyik ma BB nya. Bahkan lagi telpon pun masih sibuk ma BB nya. Iya kamu! hahahaha.. Tuh sohib gue tuh. Nunduukkk terus. Saya sampai bertanya pada adik saya yng punya BB. Apa asyiknya sih BB sampai orang lebih banyak habisin waktu buat lihatin BB. Cuma lihat foto dan status teman2nya. Oh ya, di BB itu kamu bisa menulis apa pun, kebanyakan yang galau. Sohib saya yang lain, pernah sebel baca status teman2nya di BB karena terlalu berlebihan. masalah rumah tangga, hati yang galau, marah-marah disebarkan lewat status BBnya dan itu mengganggu. Kadang, mendengar hal demikian, membuat saya bersyukur nggak punya BB. hohohoho..!

Pada waktu itu, BB masih merupakan barang yang hanya dipakai kalangan tertentu, seperti halnya ketika awal munculnya HP. Kebanyakan yang punya BB adalah orang kantoran, orang yang sudah bekerja karena menunjang pekerjaannya untuk mengirimkan email atau mendapatkan berita atau mengirimkan kabar. Saya agak sedikit heran ketika banyak orang dari kalangan pelajar, mahasiswa atau pekerja informal (saya melihatnya di kereta, para pekerja penjaga toko) punya BB. Mereka menggunakan BB untuk apa selain update status dan online FB, BBM. Terus, biaya langganannya pun tidaklah murah.

Saya nggak anti sama BB cuma nggak berminat. Bahkan ketika hp saya rusak dan mau ganti hape, seorang teman dengan isengnya menyarankan, “Beli BB aja Haaannn..” Saran yang langsung saya tolak!

Sekarang, masa kini, BB sudah sedikit tersingkir karena banyak orang menggunakan smartphone yang bisa menggunakan WA (whats app), salah satu aplikasi seperti BBM asal ada koneksi internet. Saya tentu saja mengunduhnya dan senang menggunakan WA karena bisa mengirim gambar, musik, buat grup. Sehingga saya tahu dan merasakan, oh begini toh asyiknya punya BB. Tapi di WA jarang orang update status, ganti foto. Saya juga jarang merhatiin foto dan status orang2 di WA.

Smartphone android pun sekarang bisa mengunduh program BB. Tapi saya malas mengunduhnya, karena WA sudah cukup buat saya. Makanya saya sedikit aneh aja waktu minta nomor telpon seorang teman, dia malah balas bertanya, punya nomor PIN? Duh, kenapa ga balas bertanya minta nomor telpon saya saja sih. Bukankah kalau punya nomor telpon kita bisa berbicara langsung dan mendengar suara orang yang kita rindukan? Aiiihhhhhh… 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Bebe ohh Bibi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s