Barakatak Barudak

Barakatak dalam basa sunda artinya tertawa terbahak-bahak.  Barudak, dalam basa sunda artinya anak-anak. Kalau dalam bahasa Inggris, untuk kata jamak biasanya menggunakan akhiran s: kids, friends, etc. Kalo di sunda, kata jamak biasanya menggunakan ar di tengah kata benda: budak = barudak, kacang = karacang, tahu = tarahuu.

Waktu liburan ke Garut naik bis, di tengah perjalanan ada pedagang asongan naik bis menawarkan dagangannya, berteriak: “tarahu tarahu. karacang! marijon!” Apa? Marijon? Makanan apa sih? Atau ngajakin si jojon, mari jon? Saya pun melihat sang penjual, dan dia mengacungkan botol minuman penyegar Mizone! halaaahh urang garut jualan jadi marijon! hahaha..!

Lanjut. Barakatak barudak adalah kenangan saya bersama para ponakan yang ocehannya terdengar polos dan benar adanya. Mereka bicara apa adanya apa yang mereka rasa apa yang mereka lihat. Berbeda dengan kita setelah dewasa ya, penuh pertimbangan untuk menyampaikan sesuatu.Saya selalu tersenyum kalau ingat obrolan ini bersama mereka. Ini cuma sedikit yang masih saya ingat, ada juga cerita dari ibunya (adik saya) yang selalu berbagi cerita mengenai tingkah anak-anaknya.

Ngeles

Igan pandai bermain kata alias ngeles. Ini waktu dia berumur 3 tahun.

Minggu pagi, Igan malas mandi, biasanya dia paling rajin. Hingga siang menjelang jam 11, dia tetap tidak mau mandi. Akhirnya gue bujuk dengan jajanan bakso, dengan perjanjian, kalau udah dibeliin bakso dia akan mandi.

Dalam perjalanan pulang dari tukang bakso:

Gue:     Igan, sebelum makan bakso, mandi dulu yaa..!

Igan:     Uwaakk.. sebelum makan berdoa dulu, bukan mandi….!

Gue:     *bengong*

Igan:     Iya kan?

Anak yang nurut nasihat orangtua.

Suatu siang, seorang teman Igan main ke rumahnya dan melihat rumahnya yang berantakan, dan bilang, “Igan rumah kamu berantakan sih.”

“Oh itu kan cuma belum diberesin aja!” jawab Igan santai.

emang bener sih! 😀

Pelahap aneka makanan

Temen saya yang udah punya anak pernah ngeluh kalau anaknya susah makan. Sedangkan adek saya kerepotan harus selalu ada makanan di rumah. Karena anak2nya doyan makan apa aja. BUah-buahan, sayuran, bahkan lalap. Mama sangat senang maka siang bersama Syamil karena ga nolak kalau dikasih lalapan.

Kalau anak2 terserang batuk, ibunya akan mengiris kencur dicocolkan ke gula pasir, dan anak2 akan mengunyahnya seperti makan kacang. hiiyyyyy saya aja nggak nahan.

Syamil pernah bekal makan siang wortel kukus dan melahapnya dengan nikmat saat makan bersama. Temannya kepengen, dikasih satu potong, memakannya dan langsung memuntahkannya. Ternyata tidak seenak yang dibayangkannya. Sedangkan Syamil mengunyahnya dengan lahap.

Igan (yeaah Igan lagi) juga makannyaa lahap. waktu ada perlombaan makan agar-agar di sekolahnya, dia paling cepat habis.Matanya melirik ke piring teman-temannya yang masih penuh dengan agar-agar. Ibunya langsung tanggap, “Igan, nggak boleh ambil punya teman”. hahahaha

Tiap pagi selalu ada tukang jamu yang lewat rumah. Bocah-bocah itu sudah menunggu dan berteriak memanggilnya. Kayak anak-anak lain yang gembira kalau tukang es krim lewat. Tapi ini tukang jamu! Dan mereka minum jamu seperti minum sirup. Biasanya mereka pesan jamu beras kencur.

Narsis

Sejak kapan seseorang mulai narsis? Sejak masih anak-anak! Ini terbukti dari bocah-bocah itu. Sabtu pagi beranjak siang, mestinya udah pada mandi. Tapi hari itu mereka senang bermain di halaman rumah. Setiap saya teriak, “ayo mandiiii udah siang nih.” Mereka pasti langsung berlarian menjauh.

Saya malas mengejarnya, akhirnya berteriak, “Siapa yang mandi duluan dia anak keren dan cakep!” Igan langsung menjawab dan menghampiri, “Uwak, aku mau mandi!” Yes, berhasil!

Tuh kan, dari kecil kita semua udah narsis.

Waktu bayi, para ponakan saya kulitnya putih. Tapi setelah berumur 2 tahun ke atas, sedikit demi sedikit putihnya luntur, karena mereka anak matahari. Suka main panas-panasan maksudnya, main sepeda, main bola, ke selokan cari ikan. Niki, adik saya yang lain, suka sekali meledek mereka dengan membandingkan kulitnya yang putih.

Suatu hari Nikii nyeletuk ke Syamil, yang sebenarnya kulit syamil ga hitam banget, dengan merapatkan telapak tangan Nci ke Syamil:

Nci: ih kita kayak kopi susu ya, kamu kopi aku susu.

Syamil: Nggak Nci, aku juga susu.Nci susu putih aku susu coklat. Aku juga putih. Nci putih muda, aku putih tua.

Nci: *bingung* (emang ada gitu putih tua dan putih muda?)

Yaa itulah sedikit cerita mengenai kepolosan dan ocehan anak-anak yang bisa menjadi penghibur saat kita lelah. Tertawa dan menghabiskan waktu bersama mereka adalah saat menyenangkan. Bahkan sebuah pelukan dari seorang anak bisa jadi obat penghilang beban setelah seharian bekerja.

Saya jadi mengerti kenapa seorang ibu/ayah ingin cepat pulang. Karena ingin bertemu dengan buah hatinya dan menemukan energi kegembiraan dan keceriaan dari tawa ceria, senyum, peluk anak-anak. Dan itu membuat kita tetap merasakan jiwa anak-anak dalam diri kita. Bisa main layang2, mobil2an, nyebur ke selokan, maen ke sungai. Bilangnya sih ngasuh anak2, padahal emang kitanya aja yang pengen main di sungai. Kita? gue aja kali yaa..? 😀

Suka ditanya gini nggak, “Bawa apa Ma, Yah, Pak”. Saya sering, “uwak bawa apa”.  Mereka gembira walau cuma ada sebungkus permen di tas saya. Pan mereka doyan makan apa aja.. hihihi..

Dan saya kangen pertanyaan itu. Saya kangen berceloteh, tertawa, jalan2, menari dan bernyanyii bersama mereka. walau sumbang… 😀

–uwak hani–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s