Jetlag ituuu…

Biasanya saya mendengar pengalaman orang-orang yang baru pulang bepergian dari luar negeri, khususnya kawasan Amerika atau Eropa, mereka mengalami jetlag, kelelahan, jam biologis tubuh jungkir balik berubah karena harus menyesuaikan dengan waktu setempat. Jetlag akibat perubahan zona waktu dan mengakibatkan sulit tidur.

Akhirnya saya pun mengalami jetlag setelah kembali dari Australia beberapa waktu lalu. Australia lebih cepat 4 jam dari Indonesia. Perbedaan waktunya memang tidak sebesar di Amerika atau Eropa. Tapi buat saya yang baru punya pengalaman perjalanan lintas negara dengan perbedaan waktu yang mencolok, cukup bikin saya pusing dan lelah.

Perjalanan dari Jakarta ke Melbourne memakan waktu 7 jam, berangkat jam 22.30 wib hingga jam 09.00 pagi waktu setempat.

Saya sempat khawatir denga perbedaan waktu ini. Karena saya terbiasa bangun jam 5 wib, nah kalau di sini, bisa-bisa saya bangun jam 9 siang! Bisa kacau nanti.  Tapi untunglah kegiatan hari pertama dimulai siang hari, jadi saya bisa menambah jam tidur. Dan godaan terberat di pagi hari adalah cuaca dingin yang bikin enak tidur.. hehehe. Tarik selimuutt!

Malah, setelah saya ingat-ingat, saya tidak mengalami kelelahan akibat jetlag, apalagi kegiatan di sana dimulai pada siang hari jam 10, jadi saya bisa bangun siang waktu setempat, yang sebenarnya itu memang jadwal saya bangun. Siang sampai malam, saya begitu bersemangat untuk bertemu kenalan baru dan menjelalajah tempat-tempat menarik, memotret, berjalan kaki, menikmati taman-taman dan mencoba tram di kota. Sehingga saya tidak mengalami ngantuk dan kelelahan saat siang hingga sore.

Tapi ketika malam hari tiba, begitu kepala menyentuh bantal, saya tidur lelap sekali. Saking lelapnya, saya tidak mendengar apa pun ketika pemilik penginapan memindahkan dan menggeser perabot rumahnya pada malam hari, bahkan suara petir menggelegar pukul 1-3 malam! Pemilik penginapan terkejut saya bisa tidur lelap dengan suara berisik. Dan ketika bertemu orang-orang dan mereka menceritakan betapa mengerikannya malam itu, saya cuma bilang, “I didn’t hear anything at that night. I sleep well.” Kebluk akut! hahahaha…!

Ketika kembali ke Indonesia, justru jetlag ini sangat saya rasakan.  Saya pulang minggu sore. Setelah melepas kangen dengan keluarga, saya tidur jam 10 malam, dan terbangun jam 3 pagi! Huaaaa.. Segarr ceria. Saya usahakan tidur lagi, tapi nggak bisa! Akhirnya saya bangun. Dan ketika berjalan menuju ruang tengah, saya merasakan telapak kaki sakit sekali. Kemungkinan karena kelamaan duduk di pesawat, kaki saya bengkak. Padahal selama di sana sering jalan kaki dan tidak merasakan pegal-pegal atau sakit.

Rasa lelah dan sakit kaki, sedikit pusing, saya putuskan untuk tidak masuk kerja. Jam 9 pagi saya diserang ngantuk berat. Saya tidur lagi. Sore hari jam 6, saya sudah dilanda ngantuk lagi! Niki bengong lihat tampang saya yang kecapekan dan mata berat. Saya bilang, “Kalau di sana (di Aussie), jam segini saya udah tidur, udah jam 10 malam.” Dia cuma komentar,” Jetlag yaa?” zzzZZZZZzzzzzz….

Jam tubuh masih terbangun dini hari. Saya pergi bekerja. Dari udara dingin kering ke cuaca panas lembap, membuat saya berkeringat di pagi hari. Siang hari di kantor, saya dilanda ngantuk berat. Menguap berkali-kali. Sulit untuk fokus bekerja.

Kelelahan akibat jetlag ini saya rasakan seminggu. Hampir setiap pagi saya bangun jam 4, tidur jam 9 malam. Butuh penyesuaian. Dan di masa jetlag ini, pikiran saya sulit teralihkan dari kenangan berjalan-jalan di taman, naik tram, nongkrong di warung kopi, mengunjungi galeri dan ngobrol bersama pemiliknya, jalan bersama Alwyn dan obrolan seru bersama Deb, percakapan saat sarapan bersama Poly, bermain bersama Nikea, menyusuri kota Melbourne dari sore hingga malam hari bersama bang Iman dan kawan2, naik fery bersama Tanya, Nina, dan Aurora, ngobrol bersama Grandpa Jack dan Grandma Rose mengenang kunjungan ke Yogya menunjukkan di peta di mana rumah saya berada, salad yang renyah, bangku taman yang nyaman,  udara segar langit biru, dingin yang menggigil. Saya kangen!

Jetlag itu bukan sekadar penyesuaian jam biologis tubuh. Tapi juga pengalihan pikiran dari tempat yang telah kita kunjungi dan teman baru yang kita jumpai, dan betapa susahnya untuk kembali fokus bekerja. Rasa lelah bisa segera hilang. Tapi kenangan dan rasa rindu itu akan bertahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s