Terperangkap awan

30628_1492060060362_7141287_n
Medan menuju Jakarta. By Hani Siti

Sabtu malam hingga Minggu pagi, hujan turun dengan derasnya di Tanjung Pandan, Belitung. Cuaca yang asyik buat berleyeh-leyeh di kasur dan menikmati suara hujan yang kencang menimpa atap hotel. Tapi pagi itu saya harus kembali ke Jakarta, jadi dengan susah payah saya mendorong badan ini untuk bangun, mandi, dan sarapan.

Menjelang pukul tujuh pagi, tidak ada tanda-tanda hujan akan mereda, malah semakin deras. Supir jemputan sudah datang untuk mengantarkan saya ke bandara. Setibanya di bandara, saya checek in, dan segera bergegas menuju ruang tunggu karena setengah jam lagi pesawat akan berangkat. Ruang tunggu sudah penuh penumpang. Kemudian saya melemparkan pandangan ke landasan pesawat. Kosong!  Tidak ada satu pun pesawat. Saya melihat papan jadwal, seharusnya ada penerbangan pada saat itu. Tapi nggak ada satu pun pesawat yang parkir. Tak lama terdengar pengumuman, pesawat dari maskapai Sriwijaya harus kembali ke Jakarta, karena cuaca buruk dan tidak memungkinkan untuk mendarat. Sedangkan penerbangan Garuda tidak ada beritanya. Ah pasti gara-gara cuaca buruk juga, maka akan terlambat pula.

Di ruang tunggu saya hanya bisa menikmati pemandangan bandara yang diguyur hujan, langit kelabu, dan jarak pandang yang terbatas.

Setelah menunggu hampir sejam, akhirnya Garuda mendarat di bandar udara H.A.S. Hanandjoedin. Kru di darat membagikan payung kepada setiap penumpang. Saya berjalan menembus hujan menuju pesawat. Satu persatu penumpang lain pun naik. Tak lama kemudian, pintu ditutup, pesawat bergerak untuk bersiap lepas landas. Hujan masih deras. Saya berdoa kencang. Supaya cuaca segera membaik. Saya mengencangkan sabuk pengaman.

Setelah mengudara cukup lama, pesawat sedikit berguncang. Terdengar pengumuman untuk tetap di tempat dan mengenakan sabuk pengaman. Ketika keadaan sudah membaik, lampu tanda sabuk pengaman boleh dilepas menyala. Beberapa penumpang ngacir ke toilet. Beberapa pramugari mulai berjalan membagikan kudapan dan minuman. Tak lama kemudian, terdengar pengumuman dari pilot untuk kembali ke tempat duduk dan mengencangkan sabuk pengaman. Pramugari yang sedang berada di tengah lorong, berlari mendorong kereta makanan ke ujung pesawat. Mereka benar-benar berlari. Saya yang melihatnya langsung deg-degan. Saya memandang ke luar jendela. Hanya putih berkilau. Awan. Pesawat ini berada di dalam awan. Tiba-tiba pesawat berguncang keras. Seperti halnya kendaraan melewati polisi tidur beberapa kali atau melewati jalan berlubang besar. kemudian, pesawat tiba-tiba turun ketinggiannya secara mendadak, dada saya terasa sakit. Rasanya seperti naik kora-kora di Dufan, dari ketinggian kamu meluncur ke bawah. Jantungnya ketinggalan di atas. Saya tidak tahan dengan silau awan di luar. Putih bersinar. Akhirnya saya menutup jendela.

Syukurlah akhirnya pesawat tersebut dapat melewati awan tersebut. Dan cuaca di luar berangsur terang. Saya bisa melihat laut dan kepulauan Seribu Jakarta di bawah. Pramugari kembali bergegas mengumpulkan sampah sisa kudapan dan minuman.

Perjalanan Tanjung Pandan – Jakarta hanya 46 menit. Tapi itu adalah penerbangan yang saya rasakan lama dan mendebarkan. Akhir tahun memang merupakan musim hujan. Saya mengunjungi Belitung tepat sebulan lalu, pada November akhir.

Minggu siang tanggal 28 Desember, saya dikejutkan dengan berita hilangnya pesawat Air Asia dalam perjalanan dari Surabaya menuju Singapura. Sinyal terakhir ditemukan antara Tanjung Pandan dan Pontianak. Diperkirakan akibat cuaca buruk terperangkap awan kumulonimbus. Awan yang pekat sehingga pesawat hilang kontak. Saya teringat perjalanan saya dari Tanjung Pandan dalam cuaca buruk. Berharap pesawat AirAsia segera ditemukan, berdoa agar seluruh penumpan dan kru selamat.

Awan. Saya senang memandang langit dan melihat awan beriringan. Bahkan jika sedang di pesawat pun saya senang menikmati awan dan memotretnya. Tapi ternyata awan tebal menjadi musuh bagi pilot dan membahayakan keselamatan penerbangan.

4173_1136648625811_6597110_n
Bangka. By Hani Siti

Catatan: Tiga hari setelah hilang, pesawat Airasia ditemukan jatuh di Selat Karimata. Duka mendalam untuk para korban yang telah pergi dan keluarga yang ditinggalkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s