Ayo lari…!

Menurut gue, olahraga yang paling murah itu adalah lari. Ga perlu peralatan penunjang untuk berolahraga yang satu ini. Bahkan bertelanjang kaki pun kau masih bisa berlari.

Tapi ternyata gue salah! Ketika akan mulai lagi olahraga lari, gue membutuhkan sepatu. Iya, telanjang kaki alias nyeker emang bisa. Tapi kaki gue kan manja, ga bisa tanpa alas kaki. Atau kaki gue akan gatal terkena jalanan beraspal yang kotor. Gue lebih senang berlari di pasir laut di tepi pantai atau rumput. Sayangnya rumah gue nggak di pinggir pantai, dan rumput cuma ada sepetak di halaman rumah. Yaa cuman bisa lari di tempat itu mah.

Akhirnya gue memutuskan beli sepatu olahraga. Gue udah tahu mau beli dimana, sebuah toko olahraga yang banyak koleksi sepatu olahraganya dan sering kasih diskon. Jadi pergilah ke sana. Sampai toko, dilanda bingung. Ternyata ada banyak aneka sepatu olahraga. Buat sepakbola, lari, aerobik. Gue fokus ke sepatu lari. Tapi masih ada pilihan, buat perempuan atau laki-laki. Gue persempit pencarian menjadi: sepatu lari buat perempuan. Mulailah mencari, dan melihat brandol harga. Huaaa.. Sinting! Sepatu yang gue taksir berwarna kuning harganya 1.200.000 satu juta dua ratus ribu rupiah! Jutaan! Sepatu olahraga! Iya sih didiskon, tapi masih mahal buat gue. dan sepatu olahraga itu ga kan dipakai setiap hari. Palingan dipakai seminggu sekali, itu pun kalau gue punya niat kuat buat lari… hihihi.

Gue beredar lagi di toko itu mencari sepatu dengan kriteria: sepatu lari, model perempuan, harga ga bikin menjerit. Cobain beberapa model. Menjatuhkan pilihan pada sepatu yang empuk di kaki, pas nomornya, ada warna kuning dan pink, harga bersahabat dengan dompet. Bungkus!

Dengan riang gembira gue menenteng kotak sepatu. Di perjalanan menuju stasiun Sudirman, gue melihat ada yang lagi lari. Ada banyak kabel melilit dirinya. Di lengan, di telinga. Duh apa lagi sih itu? Sepatu doang ga cukup ternyata kalau mau lari di masa kini. Masa dulu, cukup dengan sepatu dan handuk yang melingkar di leher buat mengelap keringat.

Ternyata yang melilit di lengan itu adalah handphone atau ipod yang ditempelkan dengan armbanned, supaya kita berlari dengan leluasa tanpa repot memegangnya. kemudian ada kabel menjuntai dan nempel ke telinga adalah earphone untuk mendengarkan lagu-lagu. Oh ya dalam handphone pun ada aplikasi yang bisa mengukur jarak dan waktu lari. Sungguh bermanfaat. Dan bisa dibagi ke sosial media. Jadi, biar seluruh dunia tahu kita sudah olagraga lari. Betapa pentingnya yaa..

Gue tahu betapa pentingnya pemanasan sebelum berolahraga untuk mengurangi sakit setelah berolahraga. Maka mulailah gue mencari informasi lewat internet tentang pemanasan yang tepat sebelum lari. Gue mencari dengan kata kunci persiapan lari, menemukannya di youtube, bagus kan jadi bisa nonton, gue klik. Informasi awalnya adalah pilihlah sepatu untuk lari (dengan gambar aneka macam sepatu). Informasi kedua kenakan baju olahraga yang nyaman (lengkap dengan bandana kepala). Informasi ketiga, bawalah air minum (gambar pelari dengan minuman bermerk). Informasi keempat, nah ini yang gue tunggu, pemanasan. Si model tersenyum sambil lari di tempat, dan film pun usai. Mana pemanasannyaaa..?? Kenapa hati gue yang panas? Ternyata film itu hanya berisi informasi tampil cantik saat berolahraga. Ugh deh!

Ya sudahlah. Bagaimanapun, olahraga harus diwujudukan. Akhirnya, suatu minggu yang cerah di pagi hari, gue berolahraga dengan menggunakan sepatu baru di kebun raya bogor. Udara sejuk dan jalanan lengang membuat gue berlari ringan dengan gembira. Matahari pagi yang baru terbit, bersinar di celah pepohonan yang sedikit berkabut. Cantik! Gue yang senang motret cepat2 keluarin hape, berhenti sebentar, jepret, motret. Lari lagi. Lihat bunga teratai mekar di danau. Berhenti. Keluarin hape, jepret, motret. Lari lagi. Ga jauh, ada pohon rubuh ditumbuhi jamur yang indah. Berhenti. Keluarin hape, jepret, motret. Kapan larinya ini?!! Kalau kamu berniat lari, abaikan semua hal-hal yang mencuri perhatianmu. Konsentrasilah pada jarak, ritme lari, dan pelari ganteng! huahahaha..! Cuci mata!

Biar ga haus selama lari, bawalah air minum. Tapi ribet kan kalau dipegang. Bawalah tas kecil dengan tali panjang. Tapi ketika kamu berlari, tas itu akan ikut berayun dan mengeluarkan bunyi-bunyian beradunya handphone, kunci dan botol minum. Anggap saja musik pengiring lari.

Minggu pagi itu gue berolahraga cukup satu jam saja. Larinya cuma sedikit, lebih banyak jalan cepat. Napasnya ngos-ngosan. jantung berdegup cepat. Tapi gue senang, keringat bercucuran. Pertama kali anggap saja percobaan, mungkin yang kedua akan lebih banyak larinya daripada jalan dan motret-motret. Setelah lari, janganlah beranggapan bahwa tubuhmu akan langsung turun berat badannya, sehingga kamu boleh makan apa pun setelah lari. Boleh saja sih, tapi jangan terlalu banyak.

Apa? Kenapa gue ngedadak lari? Yaaa seperti alasan orang lain pada umumnya. Gemuk. Pengen kurus lagi. Saya pernah kurus looh. Itu saja sih.

tabik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s