Ketika mereka pergi

Seorang teman pernah menulis bahwa dia tidak akan menangis atau sedih ketika ditinggalkan untuk selamanya oleh orang yang disayanginya, apalagi ditinggal orang tua.

Saya hanya tersenyum saat membacanya dan menebak, mungkin dia belum pernah kehilangan seseorang. Jangankan ditinggalkan selamanya, ditinggal diputus pacar aja kita pasti sedih, nangis. Padahal pacar itu ga kemana-mana, dan kita masih bisa berjumpa.

Tapi, ketika kamu ditinggalkan untuk selamanya oleh orang yang kamu cintai, secara mendadak, kamu akan sangat kehilangan dan merasa sedih.

Ketika Apa sakit, kami semua sudah diberitahu tentang kondisinya, berharap yang terbaik tapi bersiap untuk yang terburuk. Kami semua anak-anaknya sudah siap apa pun yang terjadi, karena itu yang terbaik untuk Apa. Tapi ketika saatnya tiba, ketika obat-obatan tidak lagi bisa menolongnya, Tuhan lebih sayang Apa dan telah menetapkan waktunya untuk pergi, kami semua terhenyak. Sedih tak terkira.

Saya sedang antri beli obat di apotik rumah sakit, ketika melihat saudara-saudara lewat membawa bantal dan peralatan lainnya untuk dibawa pulang, saya merasa aneh. Saya langsung meninggalkan antrian dan berlari ke kamar rawat, mencari mama dan menemukannya sedang menangis, saya hanya bisa bilang, “Ma, Apa udah pergi ya?”

Saya langsung memeluk mama sambil menangis terisak. (sekarang pun saya menangis). Rasa kehilangan orang yang kita sayangi dan menyayangi kita. Orang yang telah bersama sejak lahir hingga dewasa. Orang yang selalu menemani saat sedih, gembira, menemani belajar, berangkat sekolah,jalan-jalan.  Orang yang selalu ada 24 jam buat saya.

Dan orang itu telah pergi untuk selamanya. Tidak bisa lagi dihubungi lewat handphone, sms, email bahkan alat komunikasi secanggih apa pun. Tidak bisa lagi bermanja saat kita sakit, memeluknya. Bercanda. Duduk berdua nonton film hingga larut malam dan Apa dimarahin mama karena membiarkan saya begadang. hihihi.. Kebiasaan yang berbekas hingga kini, saya senang nonton, apapun, film, olahraga, berita, dokumenter.

Rasa sedih dan penyesalan mendalam, saya belum sempat bilang terima kasih atas kasih sayang Apa selama ini, saya belum memohon maaf atas kesalahan yang telah saya perbuat, saya ingin mengucapkan sayang dan mengajaknya pergi jalan-jalan serta nonton film di bioskop. Saya ingin… Saya belum..

Penyesalan dan kehilangan. Sebuah rasa yang akan membuatmu merasa semakin sedih.

Namun, ketika mereka pergi, kamu akan sibuk menerima kehadiran sahabat dan saudara yang datang untuk berbagi kesedihan. Bercerita saat-saat orang yang kamu sayangi pergi. Tentang kondisi terakhirnya. Tentang dimana kamu berada saat mereka pergi.

Kamu akan lupa untuk menangis. Tapi ketika seorang saudara atau sahabat menghampiri, kamu akan menangis menumpahkan kesedihan. Karena mereka mengenal dengan baik orang yang telah pergi.

Orang yang telah pergi harus bersatu kembali dengan alam yang telah memberinya kehidupan. Dari tanah kembali ke tanah. Banyak orang menghantar kepergiannya dalam istirahat panjang. Tanah telah ditutup kembali. Bunga telah ditaburkan. Kayu nisan telah dipancangkan. Di bawah sana, telah terbaring dalam damai orang yang kita cintai. Orang yang tidak bisa lagi kita sentuh dan peluk. Saatnya untuk meninggalkannya. Rasanya berat dan ingin menemaninya. Saya ingin mengecup tangannya. Saya ingin memeluknya. Saya khawatir Apa kedinginan. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan untuk meraihnya. Saya hanya bisa mengecup dan mengusap kayu nisan yang bertuliskan nama orang yang kita sayangi.

Rasa sedih yang mendalam, membuat kita sangat lelah, baik fisik dan pikiran. Akhirnya saya mengerti, jika ada sebagian orang yang tidak mewajibkan pengajian selama tujuh hari berturut-turut. Karena bagi orang yang sedang berduka, tidak ada tenaga untuk menyiapkannya. Beruntunglah kami tinggal di lingkungan rumah yang penuh persaudaraan, merekalah yang menyelenggarakan pengajian di mesjid. Pada hari ketujuh pengajian diadakan di rumah. Kehadiran orang-orang di rumah memberikan kami tenaga baru, dan bergembira melihat betapa banyaknya orang yang ikut merasa kehilangan dan mendoakan orang yang kami sayangi.

Walau kesedihan masih mendera, kita harus tetap menjalani kehidupan. Pergi sekolah, bekerja, menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Kenangan itu akan muncul dan mengingatkan pada mereka yang telah pergi. Pada saat inilah kita harus kuat. Saat magrib, ada rombongan bapak-bapak yang baru pulang shalat berjamaah. Saya berharap Apa ada di antara mereka. Tapi itu tidak mungkin.

Ketika seseorang pergi meninggalkanmu, kamu akan lebih menghargai dan peduli dengan apa yang kamu punya saat ini. Karena kamu tidak ingin menyesal kedua kalinya, ketika orang yang kamu sayangi telah tiba waktunya untuk pergi selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s