Terkecoh “Doa Ibu”

Betapa kita sering terkecoh oleh sebuah judul. Saya menaruh buku berjudul “Doa Ibu” di meja ruang tengah bersama buku lainnya yang saya beli dalam sebuah acara festival sastra di Jakarta. Kebetulan mama melihatnya, dan dia takjub, anaknya yang biasanya beli novel, tiba-tiba beli buku tentang doa! Anak saya sudah tobat! Anak saya berubah!

Mama pun lalu mengambil buku ini di antara buku lainnya. Membaca beberapa halaman, dan tak lama kemudian meletakkan kembali buku tersebut di meja. Dengan muka kecewa, mama melanjutkan menonton tivi. Buku ini bukan tentang kumpulan doa-doa, atau keajaiban doa-doa. Buku ini adalah sebuah novel, kegemaran anaknya. Anak saya belum berubah!

Buku ini adalah sebuah novel karya Sekar Ayu Asmara, dan ini pertama kalinya saya membaca karyanya. Buku ini bercerita tentang orang yang menghilang secara tiba-tiba. Seorang pengantin perempuan menghilang di hadapan banyak orang. Ijen, tokoh utama, mencoba membantu temannya mencari pengantin perempuan yang menghilang, dengan menelusuri masa lalu pengantin perempuan tersebut. Mencari identitasnya di sebuah sekolah, tapi ternyata tidak ada data pengantin perempuan tersebut di sekolahnya. Bahkan ketika Ijen akan meninggalkan sekolah, mendadak semua berkas yang dipegang oleh kepala sekolah hilang. Raib. Lenyap. Jeng jeengg!

Pada saat inilah, saya merasakan ketegangan dan kengerian membaca buku ini. Rasanya seperti membaca buku horor Abdullah Harahap.

Apalagi kemudian, ketika satu per satu teman Ijen pun lenyap di hadapannya, seperti butiran debu yang menghilang tertiup angin.

Sementara itu diceritakan pula tentang seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, dan ternyata, suaminya ini punya istri simpanan dan seorang puteri. Perempuan ini tidak tahu kalau suaminya menyimpan rahasia ini darinya. Dia tentu saja marah. Tapi anak perempuan ini tidak semarah ibunya. Dia malah mendekati saudara tirinya. Anak perempuan ini pun curiga terhadap ibunya, yang ternyata menyimpan rapat sebuah rahasia masa lalu.

Pada masa lalu, perempuan ini hamil oleh kekasihnya, tapi karena keadaan, kekasihnya tidak menikahinya, dan dia terpaksa menggugurkan kandungannya. Kemudian menikah.

Sampai pada suatu titik, ketika Ijen menyatakan isi hatinya kepada seorang teman perempuannya, dia pun tiba-tiba menghilang, tanpa sempat mendengar jawaban dari teman perempuannya. Dan tiba-tiba Ijen dipertemukan dengan perempuan yang ditinggal mati suaminya. Pada saat inilah, semua rahasia terungkap.

Pada bagian awal hingga tengah cerita memang seru, menegangkan, tapi pada bagian akhir, ketegangan itu langsung sirna. Langsung nyep nyes gitu.

Yang menarik dari buku ini adalah, pada setiap awal bab, penulis menerangkan perasaan hati dengan deskripsi warna. Tapi tidak ada deskripsi warna untuk ketegangan yang tiba-tiba hilang.

Dan saya yakin, doa ibu akan selalu terhubung dengan anak-anaknya, bahkan anak-anak yang tidak sempat dilahirkannya karena keguguran atau aborsi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s