Sumba, kami datang!

Bermula dari Fitri yang menawarkan tiket murah ke Bali pulang pergi sebesar Rp. 200,000. Tentu saja semua teman dalam grup percakapan panik dan akhirnya terkumpullah 7 orang yang berminat pergi. Tapi banyak orang sudah mengunjungi Bali. Akhirnya tercetuslah untuk menyebrang ke Sumba, di Nusa Tenggara Timur. Banyak teman mendukung, kemudian kami mencari tiket ke Sumba. Sejak mencari tiket hingga keberangkatan kami mendapatkan banyak kebingungan namun kemudian berbuah banyak pengetahuan tentang Sumba yang selama ini luput dari perhatian saya. Perjalanan ini membuka wawasan kami tentang pulau yang semula saya tahu, susah air bersih, musim kemarau panjang. Tapi ternyata menyimpan banyak keindahan budaya dan pemandangan.

Sumba memiliki dua bandara. Satu di Tambolaka, wilayah Sumba Barat Daya, dan satunya lagi di Waingapu, Sumba Timur. Sempat bingung. Tapi kemudian kami berdiskusi, dan memutuskan untuk mendarat di Tambolaka, kemudian menyusuri Sumba dan berakhir di Sumba Timur, jadi kepulangan lewat bandara di Waingapu.

Sumba terbagi dalam wilayah Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Timur. Pembagian wilayah ini semula cukup membingungkan kami, karena setiap wilayah ada banyak tujuan wisata yang ingin kami kunjungi. Supaya ga bolak balik, kami harus menyusun rute dengan baik untuk menghemat waktu. Tapi pada akhirnya kami menyerah. hehehehe.. karena kami memilih untuk menginap di Sumba Barat Daya, sedangkan tujuan wisata lebih banyak di Sumba Barat. Tapi ga masalah, karena perbedaan jaraknya bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. Ga ada macet lohhh.

Menyusun itin ini kami mendapat bantuan dan saran dari teman2 yang tinggal di Sumba, ada Kak Andi, Kak Esty dan Kak Ningsih. Dan kami tidak mengenal mereka! Tapi itulah hebatnya pertemanan di dunia petualangan. Temannya Fitri mengenalkan pada Kak Andi, kemudian Kak Andi mengenalkan pada Kak Ningsih, kemudian Fara menjalin komunikasi dengannya, dan saya dikenalkan kepada Kak Esty oleh Dini yang pernah ke Sumba. Kami belum pernah bertemu  sebelumnya, tapi mereka dengan baik hati menawarkan bantuan untuk mencarikan sewa mobil, penginapan bahkan Esty menawarkan untuk menginap di rumahnya.

Soal penginapan, kami berdiskusi lagi. Ada banyak pilihan di Sumba Barat Daya dan Sumba Barat. Harganya nyaris semua sama. Rata2 Rp. 300.000 – 350,000 per kamar untuk dua orang. Tapi kami tertambat pada Rumah Budaya Sumba karena ada kamar dengan ciri khas arsitektur rumah Sumba. Kami ingin merasakan menginap di rumah itu. Dan akhirnya kami memutuskan untuk menginap selama 3 malam di Rumah Budaya Sumba, karena malas bongkar pasang koper! hehehe.. selain itu karena penginapannya nyaman dan ada museumnya dimana bisa belajar banyak tentang budaya Sumba.

Sebelum berangkat, kami juga mendapat saran untuk membawa buku2 atau alat sekolah untuk anak2 Sumba. Kami pun membawa pulpen, buku cerita, jepit rambut, karet rambut, permen dan coklat.

Mendekati waktu keberangkatan, ternyata peserta bertambah, menjadi 10 orang! Lebih rame dan seru, serta lebih murah. Karena kita bisa berbagi ongkos perjalanan, penginapan. Piknik gotong royong hihihi..

Dan inilah 10 orang, saya, Ambar, Kuswanto, Fitri, Mery, Tika, Usrok, Fara, Syanti dan Vita, serta satu anggota paling muda berumur hampir dua tahun, Ranu, siap menjelajah dan berlibur. Sumba, kami datang!

12196243_10207001890378594_4775143909006284934_n

Kampung Adat Praijing

Nantikan cerita selanjutnya tentang penginapan dan pertemuan pertama dengan kawan Sumba kami, yang ternyata oh ternyataaaa… 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Sumba, kami datang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s