Umroh Mandiri: Jemaah Mandiri

photogrid_1488433656919

Setiap mau bepergian ke berbagai tempat menawan di Indonesia atau di luar Indonesia, biasanya saya dan teman-teman akan mencari informasi mengenai tempat tujuan, transportasi termasuk penyewaan mobil, penginapan dan makanan di sana. Setelah itu kami bisa menghitung biaya yang harus disiapkan dan kemudian kami berbagi biaya perjalanan. Cara ini lebih murah dibandingkan kita pergi sendiri atau bergabung dengan agen perjalanan. Kita pun lebih leluasa mengatur waktu. Dengan gaya jalan-jalan seperti ini, saya bisa bepergian ke berbagai tempat dengan biaya yang tidak terlalu besar. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, lapar sama-sama cari makan 🙂

Nah, dilalah gaya jalan-jalan saya ini malah keterusan ketika saya pergi umroh. Sebenarnya niat umroh sudah lama ada. Tapi ketika melihat biaya perjalanannya, saya merasa nggak mampu, duitnya nggak cukup, aduuuh duit tabungan sayang banget yaa.. hehehe. Anehnya, kalau ada yang ngajak jalan-jalan, saya selalu merasa punya duit. Lebih murah daripada pergi umroh *tutupmuka* Yaaa semua ada waktunya. Keinginan itu muncul tiba-tiba, disertai niat yang kuat, dan diingatkan sama kakak untuk berumroh, maka, ketika Ka Yeni dan Fara mengajak umroh backpacker, saya langsung teriak, AKU IKUT!

Umroh backpacker! Nggak beda jauh sama gaya jalan-jalan saya selama ini. Pasti murah dong. Tapiii.. kemudian saya jadi ragu. Umroh backpacker? Aman nggak sih? Bakal bisa masuk negara Arab ga? secara yang pakai travel aja banyak yang batal berangkat dan nggak boleh masuk. ngurus visanya bagaimana? Terus, ada pembimbingnya ga? Pengetahuan saya tentang umroh dan ibadah sangat minim. Ada pelatihannya nggak?

Tapi kemudian Fara meyakinkan saya, bahwa seorang kenalannya sudah berumroh dengan gaya ini, dengan travel yang sama dan senang dengan perjalanannya. Semua pertanyaan saya dijawabnya bahwa tidak beda jauh dengan travel lainnya. Tapi kita berbagi ongkos (sharing cost), jadi lebih ringan. Semakin banyak pesertanya maka akan semakin murah. Dan yang bikin saya gembira, kami akan mampir di Kairo, Mesir.Yahuuu..! Tapi cuman sehari. Gapapa deh. Yang penting bisa mampir dan lihat patung Spinx yang hidungnya patah gara-gara Obelix.

Setelah saya menyatakan keinginan untuk umroh, saya pun bergabung dengan grup WA dimana di dalamnya ada orang-orang yang sudah pasti pergi pada bulan Februari 2017 dan ada satu kepala suku yang mengatur perjalanan. Biasa disebut Tour Leader hihihi…  dalam grup perjalanan saya biasa disebut KS alias kepala suku. Tour leadernya dari travel Safar Jazira bernama lengkap Mas Arie Wibowo. Bukaaann… Dia bukan bintang pilem yang ituh..

Dalam grup WA kami saling berbagi informasi tentang promo tiket pesawat ke Kairo, Jeddah dan Kuala Lumpur. Ketika ada harga bagus, Ka Yeni langsung melakukan pemesanan tiket. Bukan pihak lain yang melakukannya, tapi kami sendiri. Atau bisa juga minta bantuan tour leader utk pembelian tiket dan mentransfer uangnya. Pembelian tiket ini dilakukan pada bulan September. Kirimkan data pribadi seperti nama lengkap dan nomor paspor. Kami menggunakan maskapai Saudia Air.

Tiket pesawat yang kami pesan dengan tujuan Kuala Lumpur – Jeddah – Kairo – Jeddah – Jakarta. Tambahannya adalah kami harus membeli tiket ke Kuala Lumpur. Total biaya seluruh tiket sekitar Rp. 7.5 jeti. Pulang pergi! Termasuk bagasinya pemirsa.

Kemudian, Mas Arie, sang tour leader (TL), mengingatkan para peserta untuk melakukan beberapa hal sebagai persyaratan perlengkapan pengurusan visa ke Arab dan Kairo. Diantaranya adalah suntik meningitis (para peserta melakukan sendiri dengan diberikan informasi tempat suntik meningitis), memilih premi asuransi (kami wajib punya asuransi perjalanan, tapi TL yang memilih asuransi yang digunakan dengan memberikan pilihan kepada kami jumlah premi yang diinginkan); mengirimkan sejumlah pas foto, scanning paspor, tiket perjalanan. Persyaratan dikirim berangsur, sesuai dengan yang akan diurus terlebih dahulu, dibuat jadwal pengiriman dengan batas waktu yang harus ditaati. Karena kalau salah satu terlambat akan mempengaruhi orang lain.

Pembayaran pun demikian. Diangsur sesuai dengan jadwal pengurusan dokumen dan ada batas waktunya. Misal, pengurusan asuransi, kami harus menyetorkan sejumlah uang berdasarkan jumlah premi yang kami pilih paling lambat pada tanggal 4 Desember. Kemudian menyetor lagi untuk pengurusan visa Mesir pada akhir Desember. Pelunasan biaya umroh malah sekitar tiga minggu sebelum berangkat!

Karena hal inilah, dimana kami harus ikut menentukan pilihan, mengikuti aturan dan jadwal yang telah dibuat, saya lebih suka menyebutnya ini umroh mandiri. Kita dilibatkan, jadi tahu dan ikutan belajar dalam pengurusan perjalanan umroh. Bukan hanya setor duit, kirim dokumen, terus berdiam menunggu kepastian jadwal berangkat.

Nah, selama menunggu jadwal keberangkatan, kami  diingatkan untuk melakukan manasik. Latihan umroh. Kami melakukannya sekitar sebulan setengah sebelum berangkat. selain manasik, kami pun diberitahu tips persiapan umroh, apa saja yang harus dibawa, perlengkapan laki-laki dan perempuan, pengemasan koper dan lain-lain. Diingatkan juga untuk rajin berolahraga. Karena jarak hotel dan mesjid sekitar 400-500 meter. Supaya kita terbiasa jalan kaki.

Kami juga dikirimkan jadwal perjalanan dan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Jika ada tambahan tempat yang ingin dikunjungi, maka biaya bis akan ditanggung bersama sesuai kesepakatan. Yup. Ada istilah baru lagi, umroh gotong royong! 🙂 asyik ya umroh ini. semua berdasar asas musyawarah mufakat. Soal pemilihan catering pun dibicarakan di grup. Dibuat voting siapa yang mau pesan catering atau nggak. Kebanyakan nggak pakai catering, mau cari makan sendiri sekalian wiskul. Nah, buat yang mau catering, bisa dipesankan. Tapi pada akhirnya, semua nggak pakai catering. Banyak yang bawa bekal dan wiskul icip-icip makanan lokal di sana.

Terus, bagaimana kalau ngedadak kita nggak bisa berangkat sedangkan uang sudah disetor? Dalam email pemberitahuannya, Mas Arie sang TL asal Surabaya memberikan informasi, jika pembatalan diberitahukan sekian hari sebelum berangkat, maka biaya akan dikembalikan sekian persen. Maka, hal ini akan mempengaruhi pada pembagian biaya buat peserta lainnya. Misalnya budget dibagi 40 orang, ada yang batal pergi 2 orang, maka biayanya jadi dibagi 38 orang. Paham nggak maksudnya. paham aja ya. kalau nggak paham, ntar kita ngopi bareng ajah.

Tapi syukurlah, sampai hari pemberangkatan tidak ada yang mengundurkan diri. Jadi nggak ada penghitungan ulang. Setiap peserta harus membayar US$ 515 tanpa catering, US$ 615 dengan catering. Pembayaran bisa dalam rupiah dengan acuan nilai kurs pada hari itu.

Selama menunggu pengurusan visa dan menjelang keberangkatan, sang TL rajin mengingatkan peserta untuk memperbanyak berdoa, supaya pengurusan visa dan perjalanan ibadah berjalan lancar.

Alhamdulillah, sekitar 3 minggu sebelum berangkat, pengurusan visa sudah selesai! kami diberi ijin masuk Arab Saudi untuk beribadah umroh. yeaayyyyy…! Visa Mesir pun sudah disetujui! Hurraaayyyy…!

dsc_0136
Umroh backpacker. Budget ransel gaya koper.

Tapi kemudian saya nanya lagi soal pembimbing selama ibadah umrah. Kebayang aja seorang TL harus mengatur puluhan jemaah terus harus bimbingan pula. Sibuk banget kan. Ternyata nanti di sana ada seorang Mutowif yg akan membimbing jemaah dalam beribadah sekaligus pemandu perjalanan. Sip lah.

Semakin mantap perjalanan ini. Umroh mandiri. Saking mandirinya, bahkan berangkat ke titik kumpul di Kuala Lumpur pun kita pergi sendiri, tidak didampingi TL. Seorang paman sedikit bingung dan panik ketika saya menceritakan titik kumpulnya di Kuala Lumpur. Khawatir ponakannya yang imut apa adanya hilang, ngelayap ke tempat liburan. Lupa mau pergi umroh! :)) Jadi saya ceritakan, dari Jakarta berangkat bersama 4 orang teman, dan kemudian akan bertemu peserta lainnya di bandara Kuala Lumpur. Atau bisa juga kita janjian sama peserta lainnya untuk berangkat bareng dan bisa berbagi penginapan, kalau dirasa harus tinggal semalam di KL. Sang TL tetap memantau dan memberikan arahan selama perjalanan transit jika ditanya oleh petugas imigrasi bandara, yang bikin kita jadi deg2an. Tapi di akhir arahannya malah bilang, “santai saja, belum tentu juga ada petugas yang bakal tanya”. Idddiihh..! deg2an nya buyar.

Umroh mandiri pun bebas tanpa seragam baju dan koper. Jadinya kita bisa bebas memilih gaya busana. Aiihhh…Dan bawa koper yang lebih gede. Buat oleh-oleh! Penting! Kita pun harus mandiri membawa dan memperhatikan koper kita sendiri. Memesan troley sendiri. Tapi jangan khawatir, banyak teman yang akan membantu dan menolong.

Oh ya lama perjalanan ini hampir dua minggu. Karena saya menginap semalam di Kuala Lumpur, terhitung jadinya dua hari. Kemudian sehari di Kairo, dan menetap di Madinah selama 4 hari dan Mekah 5 hari.

Jadi berapa total biaya keseluruhan perjalanan ini? Termasuk tiket pesawat, menginap semalam di Kuala Lumpur, visa Mesir & Arab, akomodasi, transportasi, konsumsi adalaaahhh sebesar lima belas juta rupiah!

Demikianlah cerita awal perjalanan umroh ini. Tapi masih banyak yang harus dipersiapkan. Apa sajakah? nanti yak nyusul ceritanya.

Kalau mau tahu lebih lengkap tentang travel Safar Jazira, bisa kunjungi tautan berikut http://www.safarjazira.com/ dan bertanya langsung.

Psssttt katanya bakal ada umrah Ramadhan! Mau..? Mau..? Mau..? Semoga bisa gabung yaaa… Semoga Allah mudahkan langkah dan lancarkan rejeki kita. Aamiin.

img_20170301_180522_318
sebagian teman perjalanan di depan museum kereta api, Madinah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s