Pada suatu malam

Biasanya jam 10 malam saya sudah terlelap tidur. Berselimut hangat, lampu redup. Tapi malam itu, saya melihat banyak hal. Tentang hak orang lain yg tidak bisa kita ambil seenaknya. Tentang orang2 yg bekerja keras mempertahankan hidup orang lain. Tentang pertemanan dan pentingnya bersilaturahim.

Jangan ambil hak orang lain

Niki menelepon dengan suara sesegukan. Saya yg sedang dalam perjalanan pulang bekerja menuju rumah sakit, kaget mendengarnya. Dia sudah  berada di sana sejak siang mengantar mama yg lemas karena diare dan berwarna hitam. Hasil pemeriksaan menunjukkan mama menderita anemia. Karena diare yg berwarna hitam adalah darah. Sehingga hb nya turun sekitar 4.6. Orang lain mungkin akan jatuh pingsan, tapi mama masih bisa ngobrol dgn suara nyaring. Dan sejak sore mama dirawat di ruang ICU.

Niki bilang mama harus dirawat di ruang HCU (high care unit) dimana pasien dalam keadaan stabil tapi harus dalam pengawasan ketat. Sayangnya, di rumah sakit itu ruangannya penuh. Perawat memberikan rujukan untuk membawa mama ke RSUD atau RS PMI. Rumah sakit yg selalu penuh dgn pasien. Perawat yang baik hati membantu Niki menghubungi dua rumah sakit itu, tapi sulit tersambung. Niki pun panik dan menangis. Saya mencoba menghiburnya kalau saya sebentar lagi sampai RS di kawasan Yasmin.

Saya langsung menuju ruang ICU dan menemukan mama di ruangan khusus sedang terbaring dengan wajah pucat, matanya semakin kecil, menyipit. Saya kaget melihatnya. Langsung memeluknya. Niki muncul dengan mata sembab. Padahal dia paling sering berantem sama mama, dalam keadaan begini, dia yg paling terpukul. Dasar niknok..!

Saya langsung menghubungi perawat. Dan beritanya sama. Semua rumah sakit yg dirujuk tidak bisa dihubungi. Dalam keadaan bingung, saya teringat Elly, mamanya pernah dirawat di PMI. Saya bertanya prosedurnya, Elly mengatakan, langsung saja datang ke sana. Nggak harus telpon. Nanti bisa langsung ditangani. Bi Een, tante saya yg perawat pun menyarankan, agar ke PMI saja, karena mama pernah berobat di sana, kemungkinan cepat penanganannya.

Kakang yg baru tiba d rumah sakit, dan mengetahui situasinya, langsung mencoba menelepon RS lain yg punya perawatan HCU. Semua penuh. Akhirnya kakang mendapatkan rumah sakit yg hcu nya kosong. Tapi tanpa BPJS. Sy tidak mau membayangkan berapa biayanya. Tapi saya harus siap jika mama harus ke sana.

Mama mendengar akan dipindah ke rs tanpa bpjs dan langsung menolaknya. Dia menyarankan utk coba dl ke RSUD atau PMI. Siapa tahu bisa diterima. Tapi saya tahu pasti bakal penuh dan lama penanganannya. Sedangkan mama harus secepatnya transfusi darah.

Saya nggak tahan harus berapa lama menunggu. Ada satu rumah sakit yg belum kami telpon. Rumah sakit militer. Saya dr tadi menahan diri nggak mau bilang. Dan kami tidak harus menghubungi rumah sakit itu, kami hanya harus menghubungi paman, adik Apa, seorang dokter juga tentara.

“Kang, telpon Mang ya. Biar bisa dapat kamar d rumah sakit,” saran saya, pelan.

“Jangan. Nanti kita ngambil hak orang lain!” jawab Kakang sambil sibuk memencet telpon mencari rumah sakit lainnya.

Saya hanya terdiam. Langsung teringat Apa. Yang sering melarang anak2nya menggunakan fasilitas kantor yg didapat Apa. Sikap yg sekarang menurun ke Kakang. Dalam keadaan terdesak pun masih memikirkan hak orang lain yg seharusnya didapat, tapi bisa hilang karena kami mendapat fasilitas paman. Dan kami tidak mau mendapatkan kamar dengan cara seperti itu.

Ada rasa kesal sama Kakang, tapi saya setuju sama sikapnya. Ada rasa lelah ingin istirahat, ada sedih yg harus saya tahan. Mama harus segera dirawat.

Tiba2 saya teringat teman, Yuniar, seorang dokter yg praktek di Bogor. Saya menanyakan tentang RSUD. Walau dia tidak praktek di sana, tapi tahu kondisinya. Yuniar mengatakan bahwa di sana memang penuh, dan untuk mendapat kamar harus menunggu. Tapi pasti bakal dapat.

Dengan berbekal informasi itu, dan mama yg masih keras kepala walau lagi terbaring lemas –Hehe itulah mamaku– kami, saya, kakang, mama dan seorang Tante menuju RSUD. Niki sudah pulang. Dia butuh istirahat dan mempersiapkan baju2 mama.

Hiruk pikuk UGD

Selama menghubungi dan mencari rumah sakit yg bisa menampung perawatan mama, saya banyak melihat kesibukan di ruang ICU RS. Ruangan menjadi sempit karena banyak orang di sana. Semua kasur penuh terisi pasien. Keluarga berdiri di samping kasur menunggu pasien. Pasien yg belum ditangani dan diperiksa,  duduk menunggu di depan meja perawat.

Perawat hilir mudik menangani pasien dari satu kasur ke kasur lainnya. Mereka bergerak cepat dan tangkas. Dokter pun sibuk memeriksa dan membuat catatan.

Perawat yg merawat mama juga tampak sabar. Padahal saya bolak balik ngurusin perpindahan rumah sakit. Meminta surat rujukan dan obat2. Dan dia tetap tenang ketika saya memberitahukan bahwa kami akan ke RSUD bukan rs tanp bpjs. Padahal mbak perawat itu sudah memberikan keterangan kondisi pasien pd rs tersebut lewat telpon.

Setelah semuanya siap, kami melaju menuju RSUD. Kami langsung ke bagian Unit Gawat Darurat. Saya turun duluan, hendak mencari kursi roda, karena mama ga kuat berdiri dan jalan.

Di pintu masuk, seorang pasien berjalan dengan lambat, muka memelas. Seorang perawat langsung menyodorkan kursi roda. Saya pun berjalan ke dalam ruangan, dan terkejut melihat pemandangan di dalam.

Banyak pasien dalam keadaan tak berdaya, duduk di kursi menunggu giliran untuk diperiksa. Orang2 yg sedang sakit menanti untuk segera diobati. Saya mencari perawat meminta kursi roda utk mama.

Mama dibantu oleh perawat untuk duduk di kursi roda dan mendorongnga masuk ruangan. Tante yg mengantar juga terkejut melihat betapa banyaknya pasien di dalam. Berarti mama harus menunggu giliran. Sedangkan kondisi mama sangat lemas. Kami meminta agar mama diperbolehkan berbaring di kasur yg tampak kosong. Tapi tidak boleh karena itu untuk anak2.

Kemudian ada dokter yg keluar dr ruangan UGD dgn tampang lelah. Tante memberitahukan kondisi mama yg harus cepat ditangani. Tapi dokter mengatakan bahwa harus menunggu dan ada banyak pasien yg harus ditangani juga. Saya melihat seorang dokter memeriksa pasien yg sedang duduk. Tanpa harus berbaring. Perawat keluar masuk mendorong kursi roda membawa pasien yg menahan sakit.

Kakang yg datang menyusul, melihat kondisi di dalam ruangan dan mama yg semakin lemas dan harus menunggu pemeriksaan, langsung mengernyitkan mata dan jidat lebarnya bergulung, menatap saya, “Bawa mama ke luar. Kita cari rumah sakit lain!”

Duh Gustiii..

Dalam perjalanan menuju rumah sakit berikutnya, saya terdiam. Mengingat kesibukan di UGD, pasien yg sakit, petugas kesehatan yg tidak berhenti bergerak menangani orang sakit.

Di kala kita tidur terlelap di malam hari, ada orang yg sedang menahan sakit, ada orang yang berjuang membantu menyembuhkan. Bersyukurlah akan nikmat sehat. Berterima kasih kepada yg membantu penyembuhan.

Teruuss mama dibawa ke mana ini? Malam bergulir menuju pergantian hari..

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s